10 Pondok Pesantren Besar di Tasikmalaya

Tasikmalaya, NU Tasik Online – Pada masa ini Pondok Pesantren tidak lagi dipandang sebagai lembaga pendidikan lawas dan kuno yang hanya mengedepankan pendidikan agama saja.

Banyak Pondok Pesantren yang telah melengkapi kualitas pendidikannya dengan berbagai kurikulum pendidikan umum dan bahkan mempelajari bahasa asing.

Masyarakat Indonesia juga tidak perlu bingung-bingung lagi untuk memilih Pondok Pesantren yang hendak dimasukinya, karena mayoritas Pondok Pesantren Indonesia sudah memiliki sistem pendidikan yang berkualitas dan tersebar di banyak Kota di Indonesia.
Selain itu, Pondok Pesantren kini sudah melek Teknologi dengan memiliki media baik Website atau Media Sosial untuk mempermudah masyarakat melihat profil lembaga secara daring.
Nah, buat anda yang berada di Jawa Barat, di bawah ini adalah beberapa Pondok Pesantren besar di Tasikmalaya yang cocok untuk tempat belajar putra-putri anda (versi kami) :

1. Pondok Pesantren Suryalaya

pondok Pesantren Suryalaya Tasikmalaya Jawa Barat Indonesia didirikan oleh Syaikh Abdullah bin Nur Muhammad atau Abah Sepuh pada pada 7 Rajab 1323 H atau 5 September 1905. Beliau adalah mursyid tarikat Qadiriyah Naqsyabandiyah

Syaikh Abdullah bin Nur Muhammad dapat mendirikan sebuah pesantren walaupun dengan modal awal sebuah mesjid yang terletak di kampung Godebag, desa Tanjung Kerta. Pondok Pesantren Suryalaya itu sendiri diambil dari istilah sunda yaitu Surya = Matahari, Laya = Tempat terbit, jadi Suryalaya secara harfiah mengandung arti tempat matahari terbit.

Pada awalnya Syeikh Abdullah bin Nur Muhammad sempat bimbang, akan tetapi guru beliau Syaikh Tholhah bin Talabudin memberikan motivasi dan dorongan juga bimbingan khusus kepadanya, bahkan beliau pernah tinggal beberapa hari sebagai wujud restu dan dukungannya. Pada tahun 1908 atau tiga tahun setelah berdirinya Pondok Pesantren Suryalaya, Abah Sepuh mendapatkan khirqoh (legitimasi penguatan sebagai guru mursyid) dari Syaikh Tholhah bin Talabudin

Syaikh Abdullah bin Nur Muhammad berpulang ke Rahmattullah pada tahun 1956 di usia 120 tahun. Kepemimpinan dan kemursyidannya dilimpahkan kepada putranya yang kelima, yaitu KH. Ahmad Shohibulwafa Tajul Arifin yang akbrab dipanggil dengan sebutan Abah Anom. Pada masa awal kepemimpinan Abah Anom juga banyak mengalami kendala yang cukup mengganggu, di antaranya pemberontakan DI/TII.

Dari tahun ke tahun Pondok Pesantren Suryalaya semakin berkembang, sesuai dengan tuntutan zaman, maka pada tanggal 11 maret 1961 atas prakarsa H. Sewaka (Alm) mantan Gubernur Jawa Barat (1947 – 1952) dan mantan Mentri Pertahanan RI Iwa Kusuma Sumantri (Alm) (1952 – 1953). Dibentuklah Yayasan Serba Bakti Pondok Pesantren Suryalaya. Yayasan ini dibentuk dengan tujuan untuk membantu tugas Abah Anom dalam penyebaran Thariqah Qadiriyah Naqsabandiyah dan dalam usaha mencerdaskan kehidupan bangsa.

Pada masa kepemimpinan Abah Anom, Pondok Pesantren Suryalaya berperan aktif dalam kegiatan Keagamaan, Sosial, Pendidikan, Pertanian, Kesehatan, Lingkungan Hidup, dan Kenegaraan. Hal ini terbukti dari penghargaan yang diperoleh baik dari presiden, pemerintah pusat dan pemerintah daerah, bahkan dari dunia internasional atas prestasi dan jasa-jasanya. Dengan demikian eksistensi atau keberadaan Pondok Pesantren Suryalaya semakin kuat dan semakin dibutuhkan oleh segenap umat manusia.

2. Pondok Pesantren Cipasung

Ponpes Cipasung didirikan oleh KH. Ruhiat pada akhir tahun yaitu akhir tahun 1931. Beliau wafat tanggal 28 November 1977 bertepatan dengan 17 Dzulhijjah 1397 H.

Selama 46 tahun KH Ruhiyat membesarkan pesantren. Suka dukanya pun dirasakan dalam rentanbg waktu itu dari masa pendudukan Belanda dan Jepang.

Awalnya santri yang menetap di Pondok Pesantren ini berjumlah kurang lebih 40 orang yang sebagian besar adalah yang ikut dari Pesantren Cilenga, tempat beliau mondok. Di samping itu banyak pula para santri yang pada malam hari mengaji dan siangnya kembali ke rumahnya atau santri kalong.

Pada tahun 1935 didirikan sekolah agama (madrasah diniyah). Sekolah inilah yang pertama sekali didirikan di Pondok Pesantren Cipasung.

Setelah kemerdekaan, Ponpes Cipasung berkembang pesat. Ponpes Cipasung juga menjadi pesantren terbesar di Jawa Barat dengan menyelanggarakan pendidikan formal dari TK sampai Perguruan Tinggi. Bahkan Ponpes ini sangat berpengaruh bagi perkembangan Nahdlatul Ulama di Tasikmalaya.

3. Pondok Pesantren Bahrul Ulum Awipari

Pesantren Bahrul Ulum tergolong pesantren tua di Tasikmalaya. Berdiri pada tahun 1920, pesantren ini menancapkan dakwahnya dengan pola pendidikan khas pesantren klasik. Metode pembelajarannya adalah mengaji kitab kuning.

Bukan berarti tidak ada pendidikan formal. Di pesantren ini pendidikan formal disediakan. Namun sore dan malam mengaji di diniyah. Maka santrinya ada dua model, mukim, model lainnya adalah yang tinggal di rumah, santri kalong.

Sehingga di setiap Ramadhan juga mengadakan pengajian pasaran. Yaitu kajian kitab oleh ustadz yang dihadiri banyak santri dari segala penjuru dengan durasi waktu tertentu.

4. Pondok Pesantren Riyadlul Ulum Wadda’wah Condong

Pondok Pesantren Riyadlul Ulum Wadda’wah adalah Pondok Pesantren yang berlokasi di Kp. Condong Rt.01 Rw.04 Kel. Setianegara Kec. Cibeureum Kota Tasikmalaya kode pos 46196 Jawa Barat. Pesantren ini merupakan salah satu pondok lembaga pendidikan tertua yang ada di Kota Tasikmalaya Jawa Barat didirikan sekitar tahun 1864 masehi, asal mulanya Pesantren ini memberlakukan sistem pendidikan klasikal yang mengkhususkan diri pada pengajian kitab-kitab klasik ulama-ulama terdahulu

Pendirinya adalah KH. Nawawi dari Rajapolah. Sedangkan tanah untuk membangun pesantren adalah pemberian Pangeran Cornell seluas 500 tumbak (7.000 meter persegi). Pangeran Cornell adalah penguasa Kerajaan Sumedang Larang. Saat itu diketahui, Tasikmalaya berada di bawah kekuasaan Sumedang.

Sampai saat ini surat-surat pemberian tanah dari Pangeran Cornell masih tersimpan dengan baik. Dalam perkembangannya pesantren ini merupakan pesantren besar di Kota Tasikmalaya dengan luas lahan 5,5 hektare. Selain mengadakan pengajian kitab kuning. Pesantren ini juga memiliki lembaga pendidikan formal dari SD, SMP, SLTA sampai Perguruan Tinggi.

5. Pondok Pesantren Miftahul Huda Manonjaya

Pondok Pesantren Miftahul Huda didirikan oleh almarhum KH. Choer Affandi (dikenal dengan julukan UWA Ajengan) beserta istri (Hj. Siti Shofiyyah) pada tanggal 7 Agustus 1967.

Berlokasi di Kedusunan Pasirpanjang, Desa Kalimanggis, Kecamatan Manonjaya, Kabupaten Tasikmalaya, Propinsi Jawa Barat, jarak dari Kota Tasikmalaya 13 km. ke arah Timur, dari ibu kota Kecamatan 1 km. ke arah Tenggara dan 8 km. dari ibu kota Ciamis ke arah Barat Daya.

Dan telah mencatatkan diri sebagai Yayasan dengan nama Yayasan Pesantren Miftahul Huda (YAMIDA) dengan akta notaris Ryono Roeslam NO.34/PN/76/AN. Berhubung banyak pendirinya yang telah meninggalkan Pesantren (waktu itu pengurusnya ada dari kalangan santri senior) maka akta notaris ini diperbaharui pada tanggal 20 Juni 1987 di hadapan notaris Tuti Asijati Abdul Ghani SH.

Cikal bakalnya adalah Pondok Pesantren Wanasuka di kampung Cigugur Ciamis, kemudian karena pergolakan perjuangan pada saat itu Pondok Pesantren Wanasuka tidak dapat dilanjutkan. Beberapa tahun kemudian KH. Choer Affandi mendirikan lagi Pondok Pesantren dengan nama Pesantren Gombongsari di kampung Cisitukaler desa Pasirpanjang, kemudian karena di lokasi ini tidak memungkinkan untuk diperluas lokasinya, sementara Santri bertambah terus, atas dukungan masyarakat lokasinya dipindah ke lokasi sekarang, dibangun di atas tanah waqaf dari Raden Hj. Mardiyah seorang aghniya di Manonjaya.

Hingga saat ini santri di pesantren Miftahul Huda mencapai 3000-an. Dari informasi yang beredar, pesantren ini juga memiliki banyak cabang.

Yang istimewa dari pesantren Miftahul Huda adalah ketokohan dari pimpinan pesantren tersebut. Yaitu KH. Choer Affandi. Kyai yang sudah wafat tersebut sangat karismatik dan dikenal luas di kalangan masyarakat Tasikmalaya. Bahkan penerusnya pun demikian. Oleh sebab itu nama pondoknya pun semakin disanjung.

6. Pondok Pesantren Sukahideng

Pesantren ini berdiri sebelum masa kemerdekaan, tepatnya 1922. Pesantren ini juga bisa dikatakan merupakan pesantren terbesar di Tasikmalaya. Santrinya saat ini mencapai 2300-an. Pesantren ini memiliki pola seperti pesantren klasik pada umumnya. Pondok menyediakan pendidikan agama, sedangkan sekolah formal di SMP dan SMA.

Yang bagus dari pesantren Sukahideng Tasikmalaya adalah marhalah atua jenjang pendidikan agama di pesantren ini. Jenjangnya jelas, dengan kurikulum target pendidikan agama yang jelas pula. Inilah yang menurut tim panduan terbaik patut menjadi rujukan pendidikan pesantren.

Ada tujuh jenjang pendidikan, marhalah, dari Tamhidiyah sampai Mutaqaddimah. Contoh untuk Tamhidiyah tagetnya adalah Juz Amma, 101 hadist dan tajwid. Jika sudah mencapai Mutaqaddimah maka akan belajar Tafsir Jalalain, Riyadhus Salihin, Jauhar Al Maknun, Fathul Mu’in, dan lain sebagainya. Menurut kami ini merupakan pola pendidikan klasik yang jelas.

Untuk pendidikan formalnya standard, dari SMP SMA, hingga SMK. Untuk satu tahun ajaran, santri barunya berjumlah 600-an. Cukup banyak kan. Oleh sebab itu pesantren Sukahideng tidak sebatas pesantren terbaik di Tasikmalaya, tapi juga sering disebut sebagai pesantren terbesar di Tasikmalaya.

7. Pondok Pesantren Sukamanah

Pada tahun 1927 M. KH. Zainal Musthafa Rahimahullah mendirikan Pondok Persantren di Kampung Cikembang dengan Nama Pondok Pesantren Sukamanah (nama kampung tersebut berubah sesuai dengan nama Pesantren yang beliau dirikan) di atas tanah Wakaf untuk rumah dan mesjid dari seorang janda dermawan Almagfurlah Hj. Siti Juariah.

Dengan berbekal Ijazah Sekolah Rakyat dan ilmu-ilmu yang diraihnya dari beberapa Pesantren selama 17 tahun, beliau memimpin Pesantren ini selama kurang lebih 17 tahun, karena pada hari jum’at tanggal 1 Rabi’ul Awal 1363 H (25 Pebruari 1944 M) di Pesantren ini terjadi pertempuran antara santri-santri Pesantren Sukamanah dengan tentara Jepang. Pada waktu itu juga beliau ditangkap menjadi tawanan. Berdasarkan dokumen Kantor Erevel Belanda di Ancol Jakarta beliau dan rekan-rekannya telah menjalani hukuman mati pada tanggal 25 Oktober 1944 dan dimakamkan di taman pahlawan Belanda Ancol Jakarta. Kemudian pada tanggal 25 Agustus 1973 jenazah beliau dan 17 orang pengikutnya di pindahkan ke makam pahlawan Sukamanah.

Dalam tempo 17 tahun tersebut Al-Magfurlah KH. Zainal musthafa mampu mencetak beratus-ratus santrinya menjadi ‘alim yang sanggup dan cakap memberikan pelajaran agama ditempat/kampung halamannya masing-masing. Berkat kepandaian dan kesuksesannya pada waktu itu berbondong-bondonglah para santri datang dari berbagai pelosok, sehingga santri yang diasramakan berkisar antara 600 s.d 700 orang yang di tampung di 6 Asrama. Adapun santri yang tidak di asramakan (santri kalong) jumlahnya lebih dari sepuluh kali lipat dari yang di asramakan.

Pada tahun 1950 keadaan Pesantren sepeninggal beliau dilanjutkan dan dirintis kembali oleh KH. Muh. Fuad Muhsin dan K.U.Abdul Aziz Rahimahullah serta rekan-rekannya dengan bimbingan kakaknya KH. Wahab Muhsin Rahimahullah. Kemudian padaTahun 2003 KH. Muh. FuadMuhsin menyerahkan dengan sepenuhnya untuk memimpin Pesantren kepada Putranya KH. Drs. A. Thahir Fuad.

Pada tahun 1956 beliau berdua sepakat mendirikan Madrasah Ibtidaiyah Sukahideng. Pada tanggal 17 Agustus 1959 telah berdiri Yayasan KH. Zainal Musthafa dengan Akte Notaris No.8 yang di perbaharui dengan Akte Notaris No.10 tahun 1999. Yayasan ini bertujuan untuk melanjutkan perjuangan Pahlawan KH. Zainal Musthafa khususnya di bidang pendidikan.

Yayasan Perguruan KH. Zainal Musthafa sampai saat ini telah mempunyai Pondok Pesantren Sukamanah, Madrasah Ibtidaiyah, Madrasah Diniyah, TKA/TPA, SMP, SMA dan lembaga pelayanan masyarakat meliputi Kopontren dan Poskestren

8. Pondok Pesantren Baitul Hikmah Haur Kuning

Pondok Pesantren Baitul Hikmah beralamat di dusun Haurkuning Desa Mandalaguna Kecamatan Salopa Kabupaten Tasikmalaya, terletak di arah selatan berjarak kurang lebih 35 Km dari Ibu Kota Tasikmalaya.Pondok pesantren ini didirikan pada tanggal 18 Agustus 1964 oleh syaekhuna Almukarram KH. Saepudin Zuhri. Semula pesantren ini bernama ” Haurkuning ” dihubungkan dengan lokasinya di puncak haur. Namun menurut pendirinya nama Haurkuning tidak ada kaitannya dengan puncak Haur . Nama Haur Kuning diberikan oleh almarhum Bapak KH. Muhammad Nawawi Cikajang Garut pada saat KH. Saepudin Zuhri mesantren disana.

9. Pesantren Cintawana Tasikmalaya

Pondok ini didirikan pada zaman belanda oleh kakek buyut saya KH. Muhammad Toha(alm), tepatnya pada 1917. Beliau sendiri menurut sebuah riwayat, adalah keturunan ke-9 dari Sunan Syekh Abdul Muhyi Pamijahan. Sebelumnya beliau sudah mendirikan pondok di daerah Cipansor. Namun karena gusuran tentara Belanda akhirnya beliau memindahkan pondoknya ke daerah Cikunten, dekat sungai Ciwulan, sampai saat ini.

Mengapa pondok ini bernama “Cintawana” ? Ceritanya daerah Cikunten itu dulunya merupakan hutan belantara, tempat prajurit Indonesia sembunyi dari tentara Belanda. Wana itu sendiri berarti “hutan”, jadi arti dari Cintawana adalah “cinta hutan”.
Pengasuh : KH. Asep Sujai Farid.

10. Pesantren Tharekat Idrisiyyah Cisayong

Pesantren Tharekat Idrisiyyah yang juga mempunyai nama Yayasan Al-Idrisiyyah, terletak di Kampung Pagendingan, Desa Jatihurip, Kecamatan Cisayong, Kabupaten Tasikmalaya sekitar 80 Km ke arah Selatan dari ibukota propinsi Jawa Barat, Bandung dan 10 Km sebelum memasuki ibukota Kabupaten Tasikmalaya. Letak Pesantren Fadris ini cukup strategis kerena berada di jalur jalan propinsi, sehingga kalau dari Jakarta, cukup naik angkutan Jakarta-Tasikmalaya, bisa langsung berhenti di depan komplek pesantren.

Pesantren Tharekat Idrisiyyah didirikan tahun 1932 oleh Syekh Akbar Abd. Fattah, kemudian pada tahun 1947 diteruskan oleh putranya, Syekh Akbar Muhammad Dahlan sampai wafatnya tahun 2001, dan sekarang tampuk pimpinan Tharekat ini dipegang oleh Syeh Akbar KH. Daud Muhammad Dahlan. Di samping memiliki asrama untuk santri, Tharekat Idrisiyyah juga memiliki lembaga pendidikan yaitu Madrasah Tsanawiyah dan Madrasah Aliyah yang berada di bawah naungan Yayasan Fathiyyah Idrisiyyah.  (Dihimpun dari berbagai sumber)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *