Antara Buzzer dan Influencer

NU Tasik Online – Sesungguhnya Buzzer ( pendengung ) adalah suatu profesi atau keahlian untuk menarik simpati publik agar mendukung pendapat yang disebarkan melalui Media Sosial. Namun sering kali kalimatnya yang dipilih sedemikian rupa selain bombastis dan agressif, juga sering kali berisi fitnah, olok-olok dan kabar bohong.

 

Oleh karena itu MUI PUSAT mengeluarkan fatwa no 24 / 2017 tentang Hukum dan Pedoman Bermuamalah melalui Media Sosial. Melalui akun twitternya, Ketua Komite Dakwah MUI ,KH DR Cholil Nafis mengatakan besarnya dosa para buzer yang suka memfitnah, sebarkan kabar bohong dan membuli.

 

Buzer berbeda dengan Influencier / Juru pengaruh yaitu profesi yang menyebar luaskan suatu keputusan atau kebijakan negara atau suatu pihak lain dengan menjelaskan substansinya agar jelas maksud dan tujuannya. Selain itu juga menggunakan bahasa yang sopan dan terukur serta bersifat faktual.

 

Mungkin pengguna buzer menganggap bahwa dengungan para buzer yang disewanya hasilnya efektif. Namun jangan lupa dengungan para buzer yang bernada fitnah menimbulkan keresahan masyarakat. Bahkan cenderung menimbulkan perpecahan, suatu hal yang perlu dihindari ditengah masih adanya polarisasi akibat pilpres 2019.

 

Jalan panjang masih harus dilalui oleh bangsa dan negara ini untuk keluar dari berbagai macam krisis yang timbul sebagai akibat covid 19. Tidak ada jalan lain kecuali kita memperkuat ikatan persatuan dan menghindari perpecahan. Dan dalam hal ini negaralah yang berdiri paling depan “mempersaudarakan segenap elemen bangsa“ sesuai dengan pesan pembukaan UUD 1945 “melindungi segenap bangsa“.

 

Penulis : KH. As’ad Said Ali

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *