Belajar Dari Corona Virus

Oleh: Affi Endah Navilah

Tak mampukah kita belajar dari mahluk mikrobiologi corona virus ini?

Seumur hidup kita, baru saat inilah masijidil harom ditutup untuk kunjungan ibadah umat Islam, begitu pula rumah-rumah ibadah agama lainnya seperti gereja Katolik Roma.

Untuk pertama kalinya harga minyak dunia turun anjlok sejak tahun 2002. Seluruh bisnis film bioskop meradang di seluruh dunia. Kehidupan para artis yang terbiasa glamour berada di titik terendah, moto GP dan persepakbolaan dunia pun dihentikan.

Duka ini dirasakan diseluruh dunia, bukan cuma di Indonesia atau di Tasikmalaya bray ! Sampai sini paham? Bahwa betapa dahsyatnya pandemi corona virus dan krisis yang ditimbulkannya.

Begitupun Ramadhan tahun ini, terasa berat. Semua memiliki beban masalahnya sendiri. Mereka yang harus berpikir bertahan hidup dengan sepiring nasi, yang bermasalah dengan paceklik perusahaannya, yang harus berurusan dengan setoran bank dengan nilai puluhan hingga ratusan juta, semua lapisan merasakan akibatnya sesuai porsinya masing-masing.

Dalam hal ibadah, MUI menganjurkan dengan tegas di bulan Ramadhan ini beribadah dirumah saja. Banyak ulama dan berbagai referensi dalil sohih diutarakan sebagai dasar hukum agar kita beribadah di rumah, dengan asumsi “darul mafasid muqoddamun alal jarbil masholih”¬†pertahanan dan keamanan bagi diri dan orang-orang di sekitar kita.

Lalu, apa yang terjadi? Katanya orang-orang malah dengan santai tetap memenuhi toko-toko baju, mall, untuk berbelanja kebutuhan SEKUNDER lebaran. Sampai sini saya heran tingkat dewa, mengapa ini terjadi? Jika mereka yang terpaksa keluar rumah karena demi sesuap nasi, baiklah kita maklumi meski tetap harus melaksanakan protokol kesehatan dan keamanan. Tapi bagi mereka yang keluar hanya untuk memenuhi kebutuhan sekunder lebaran? Heyyy… daramang? Harus banget ya belanja pakaian baru dan sejenisnya? Tidak kah lebih berempati pada mereka yang masih memikirkan kebutuhan perutnya?

Kita sudah terlalu lama terjebak dalam ritual dan budaya agama. Lebaran dimaknai dengan baju baru, makanan enak, bahkan piknik. Pantai Pangandaran dijejali manusia mulai di hari kedua pasca lebaran. Padahal jelas agama mengatakan “Idul Fitri bukan bagi mereka yang berbaju baru, tapi bagi mereka yang taatnya bertambah baru”.

Inilah yang seharusnya jadi bahan renungan. Tuhan tengah memberikan pmbelajaran bagi kita semua tentang sabar, empati, menahan diri, toleransi, kreativitas, ikhtiar, dan tawakal. Kita tengah menjalani proses pendidikan bahwa agama bukan hanya disibukan dengan ritual dan budaya, tapi syariat dan hakikat.

Menurut Denny JA dari LSI yg mengutip data base worldometer data dunia, pandemi ini baru akan mencapai 97% di bulan Juni. Dan beberapa negara yang telah berhasil menurunkan krisis mayoritas dipengaruhi oleh kepatuhan masyarakatnya terhadap protokol kesehatan dan keamanan. Tetap di rumah, pake masker, jaga kebersihan, jaga jarak. (Sukma)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *