Cerita di Balik Dinding NU Pondok Pesantren Al-Mukhtariyah

Tasikmalaya, NU Tasik Online – Ekspresi cinta seseorang terhadap Nahdlatul Ulama bisa dilakukan dalam bentuk apapun. Ada yang getol mengikuti pengajian-pengajian, aktif menjadi pengurus organisasi, membuat karya baik tulisan, gambar atau audio visual, atau sekedar update status tentang ajaran, nilai dan pandangan-pandangan tokoh-tokoh Nahdlatul Ulama.

Termasuk yang dilakukan oleh Ajengan Bubung Nizar, pengasuh Pondok Pesantren Al-Mukhtariyah Rancamacan, Mangkubumi Kota Tasikmalaya. Ia bersama santri-santri berinisiatif menggambar logo Nahdlatul Ulama dalam sebuah dinding di area Pondok Pesantren.

Bubung menjelaskan, ada serangkaian proses yang ia lakukan sebelum akhirnya menggambar Logo NU di Pesantrennya.

“Tentu yang pertama saya lakukan adalah tawassul untuk para para pendiri dan para masyayikh NU. Khawatir berlaku ceroboh dan gegabah. Tak henti-hentinya saya berpikir. Hanya meniru lambangnya saja, menuntut kita untuk fokus. Apalagi menciptakan dan mendirikannya (Organisasi NU)”, katanya.

Baca Juga : Ajengan Bubung Nizar, Da’i Muda Bersuara Merdu

Bubung mengatakan, proses menggambar Logo NU itu kurang lebih lima hari, di kerjakan bersama santri di bulan September 2020.

Bukan tanpa alasan, Pria yang juga menjabat Ketua Majelis Dzikir dan Sholawat (MDS) Rijalul Ansor Kota Tasikmalaya itu  mengaku mempunyai sebuah kebanggaan di kala membuat dinding NU.

“Bukan hanya sekedar mengukir atau membuat lambang NU di dinding pesantren, karena jika hanya menggambar, tentu gampang. Tetapi ada yang jauh lebih penting dari itu”, ungkap Bubung kepada NU Tasik Online.

Ajengan muda bersuara merdu itu mengatakan alasan kenapa menggambar logo NU di dinding pesantren.

Pertama, supaya jelas, bahwa secara pribadi saya dan keluarga bersyukur menjadi jamaah NU. Kedua, saya membayangkan bagaimana para muassis mendirikan NU. Bagaimana perjuangan mereka mendirikan NU. Sebab ternyata tak sedikit orang yang hanya memanfaatkan NU. Tidak malu dengan para pendiri yang telah berjuang keras melawan dahsyatnya perjuangan. Sungguh celaka dan dan suul adzab, jika hanya menggunakan NU sebagai alat kejayaan pribadi”, ungkapnya,

Ketiga, lanjut Bubung ia merasa bersyukur karena bisa bertabaruk pada jam’iyyah NU, pada para masyayikh semuanya.

“Semoga saya dan keluarga diakui oleh Mbah Hasyim Asy’ari santrinya. Juga diakui sebagai santri para masyayikh NU lainnya”, lanjutnya,

Baca Juga : PGM Kota Tasik Minta Ridwan Kamil Jangan Ada Dikotomi Soal Kebijakan Iuran Gratis SMA/SMK

“Keempat, yang tak kalah penting, semoga karya ini menjadi wasilah agar tetap istiqomah bermanhaj ala Ahlussunnan wal Jama’ah An-Nahdliyyah. Dan terakhir, mulai pada 6 September 2020, dinding NU ini saya jadikan sebagai satu ikon, bahwa tanda orang yang telah bersilaturahim ke Pondok Pesantren Al-Mukhtariyah adalah dengan berfoto di dinding NU ini. pungkasnya,

Kontributor : Bari Rosdi Amrulloh

Editor : Irmansyah/Sisca Sukma

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *