Dukungan Perbaikan Sistem dan Manajemen Kampus STAINU Terus Mengalir

Tasikmalaya – NU Tasik Online – Dukungan perbaikan sistem dan manajemen kampus STAINU Tasikmalaya terus mengalir. Salah satunya datang dari Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Kota Tasikmalaya.

Dalam pernyataan sikapnya, Ketua ISNU Kota Tasikmalaya, H. Aos Mahrus, M.SI mengatakan sebagai warga nahdliyin tentu menjadi beban moral tersendiri bila perguruan tinggi yang merupakan satu-satunya yg dimiliki oleh NU ini terdapat mismanajerial didalamnya.

“PCNU LPTNU harus melihat persoalan ini secara lebih bijak, jangan sampai menjadi alat kepentingan seseorang demi mempertahankan jabatan dengan mengorbankan banyak kader NU lainnya yang potensial. Mereka justru harus didorong untuk berkembang bukan untuk dijatuhkan. Sementara dosen lain yang tidak berhaluan islam ahlussunnah waljama’ah dibiarkan secara bebas serta leluasa bahkan dipertahankan”, katanya.

H. Aos melanjutkan, peristiwa pemberhentian dosen baik sementara atau secara tetap yang terjadi pada tanggal 03 Oktober 2020 terhadap 7 (tujuh) dosen yang merupakan kader NU adalah bukti kegagalan sistemik yang nyata. Bahwa ada persoalan yang serius di lembaga perguruan tinggi STAINU Tasikmalaya.

Senada dengan H. Aos, Pengasuh Pondok Pesantren Al-Mukhtariyah, Asep Rizal Asyari mempertanyakan Surat Skrosing yang dikeluarkan oleh PCNU dan LPTNU.

Asep Rizal yang merupakan mantan Sekretaris GP Ansor Kota Tasikmalaya itu menyayangkan pemberian skorsing kepada dosen yang memiliki kapasitas mempuni, bahkan diantara mereka merupakan produk asli NU, mereka meniti karir dari banom IPNU, PMII, sampe Ansor.

“Benarkah dosen dosen yang di berhentikan itu tidak punya kapasitas dalam mengajar, dilihat dari pengalamannya justru mereka adalah kader Kader hebat yang mencintai Nahldatul Ulama, bukan karena materi, tapi saya meyakini karena pengabdiannya”, tegasnya.

Asep rizal pun memberikan dukungan untuk menyelesaikan persoalan ini dengan mengedepankan Tabayyun.

“Kami mendukung agar STAINU ditertibkan, perbaiki sistem dan tata kelolanya. Kalaupun ada kesalahan fatal yang di lakukan oleh ke 7 dosen tersebut kenapa tidak di lakukan TABAYUN bukankah NU Mengajarkan seperti itu?”,

Sebelumnya diberitakan, tujuh dosen STAINU Tasikmalaya dijatuhi hukuman skorsing selama 3 tahun. Padahal mereka hanya menuntut perbaikan sistem dalam tubuh STAINU Tasikmalaya. (red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *