Fatayat NU Kota Tasik Ngaji Keadilan Gender Islam

Tasikmalaya, NU Tasik Online – Pimpinan Cabang Fatayat NU Kota Tasikmalaya Ngaji Keadilan Gender Islam bertempat di Gedung Serba Guna DPRD Kota Tasikmalaya, Senin (3/2).

Acara ini dihadiri 150 peserta dari Kota dan Kabupaten Tasikmalaya, Kab Pangandaran yang sebelumnya telah mendaftarkan diri secara online.

Hadir pada acara pembukaan pada sambutannya sekaligus membuka acara Secara Resmi  Ketua DPRD Kota Tasikmalaya, Aslim , S.H,

Ia menyampaikan sangat mendukung acara ngaji seperti ini sehingga hadirnya kajian semacam ini dapat meningkatkan kesadaran perempuan untuk meningkatkan kualitas dan kapasitas diri dalam berbagai bidang baik  kapasitasnya sebagai ibu rumah tangga.

“Perempuan sebagai pendidik utama anak-anaknya maupun berkiprah di sektor publik tanpa meninggalkan kodratnya sebagai perempuan. Perempuan adalah sosok yang luar biasa mereka memiliki konsistensi dan semangat yang baik dalam etos kerja”.  katanya.

Aslim yang juga Ketua LDNU PCNU Kota Tasikmalaya mencontohkan, sebagai bentuk pengakuan terhadap perempuan, Ia memilih kader Perempuan sebagai Kepala Sekolah pada Lembaga Yayasan Pesantren yang ia pimpin.

Sementara itu, Ketua Fatayat NU, Hj. Affi Endah Navilah mangatakan acara ini terselenggara berkat kerjasmaa Kongres Ulama Perempuan Islam (KUPI) dan Ngaji Keadilan Gender Islam.

“Kami berharap dengan adanya acara ini  dapat meningkatkan kesadaran dan  kemampuan  perempuan dalam perannya sebagai subjek  di ranah domestik maupun publik dengan cara terus banyak belajar dan meningkatkan kemampuan diri”, paparnya.

Ia mencontohkan sebagaimana Kepercayaan dan kemampuan perempuan dalam kancah politik di Kota Tasikmalaya hanya memiliki 3 Anggota dewan  perempuan di DPRD Kota Tasikmalaya.

“Artinya peluang untuk perempuan mengambil  kebijakan dan duduk di sector publik terbuka lebar, namun kepercayaan kepada perempuan untuk menduduki sector publik sendiri masih minim,  atau berdasarkan data kepala sekolah menengah di Kota Tasik yang berjenis kelamin perempuan yang memimpin di sekolah Negeri dari puluhan hanya sekitar 6 orang”, sambungnya.

Sebagai Narasumber hadir Dr. Nur Rofiah,Bil.Uzm Dosen Pasca Sarjana PTIQ Jakarta, ia adalah seorang aktivis gender, ahli tafsir lulusan S3 Universitas Ankara Turki. Dalam paparannya ia  mengatakan Ngaji kita kali ini tentang Keadilan Gender Islam (KGI-1).

“Isu tentang gender tidak pernah habis untuk dikupas dan dibahas, bukan tentang dalil-dalil yang sudah jelas dan terang benderang kebenarannya, tapi kajian ditujukan pada kesalahan pandangan masyarakat secara umum terhadap tradisi budaya dan tradisi agama”, paparnya.

“Sering kali kajian KGI hanya dibahas di kelas-kelas yang eksklusif seperti kuliah, workshop, dan seminar. Yang bisa mengakses hanya orang tertentu saja. Saya pikir akan lebih baik jika akses kajian seperti ini bisa terbuka untuk umum,”

Ibu Nur, sapaan akrabnya mengatakan, ngaji KGI merupakan salah satu upaya untuk menciptakan kesadaran gender baik untuk laki-laki maupun perempuan. Untuk itu, proses pembelajaran mengenai keadilan gender harus terus dilakukan.

Nur secara umum mendiskusikan sejarah pergulatan Islam dengan ketidakadilan sosial, utamanya ketidakadilan gender. Tema yang dapat perhatian khusus adalah isu keluarga, terutama relasi pasangan suami istri yang setara, karena keluarga merupakan ruang lingkup yang vital untuk diedukasi mengenai kesetaraan gender.

“Menurut saya memang keluarga itu menjadi tempat yang cukup rentan. Kadang sebagai warga negara kita sudah setara, tetapi dalam konteks keluarga, bisa menjadi sebaliknya. Sebagai makhluk Tuhan kita setara, ketika masuk ke rumah, kadang seperti jadi pengecualian,” ujarnya.

Nur Rofiah, menyampaikan berbagai perbedaan pengalaman biologis dan sosial perempuan dan laki-laki. Sehingga untuk mencapai kemaslahatan bukan saja diperlukan keadilan normal tetapi keadilan proporsional. Sebab hampir semua pengalaman biologis perempuan yang meliputi, menstruasi, hamil, melahirkan, nifas dan menyusui, hampir kesemuanya disertai rasa sakit dalam kurun waktu yang beragam.

“Perempuan merasakan sakit atas semua pengalaman biologisnya dalam kurun waktu yang lama, sementara laki-laki tidak.” Tutur Nur Rofiah pada penyampaian materinya.

Begitu juga dengan pengalaman sosial yang dialami perempuan seperti stigmatisasi, marginalisasi, subordinasi, kekerasan dan beban ganda menggambarkan bahwa dunia ini hanya dimiliki oleh satu subjek saja.

“Perempuan kerap mendapat kekerasan hanya karena ia menjadi perempuan,” tambahnya.

“Saya selalu berpikir kalau ada resistensi terhadap gagasan keadilan gender Islam, menurut saya sih hanya soal perlunya waktu lebih lama bagi orang tertentu untuk memahami. Pemikiran patriarkal sendiri kan memang sudah ribuan tahun dianut dan dipercaya. Kalau ingin mengubahnya mesti sabar. Santai saja, walau tetap serius. Ya sersanlah. Serius tapi santai”, Pungkasnya.

Kontributor : Siska

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *