Gus Ishom : Jangan Mudah Kafirkan Sesama Muslim!

Tasikmalaya, NUTasik Online – Rais Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Ahmad Ishomuddin (Gus Ishom) menghadiri acara Pembinaan Warga Nahdliyyin dan Peresmian gedung ranting NU Desa Mandalaguna, Kecamatan Salopa, Kabupaten Tasikmalaya, Rabu, (08/01/2020).

Setelah meresmikan Gedung Baru, Gus Ishom menyampaikan ceramah dihadapan ribuan warga Nahdliyin yang hadir.

Ia menyampaikan, hari ini NU sedang banyak mendapat fitnah dari berbagai kalangan. Social media menjadi salah satu alat untuk menyerang NU baik secara pribadi atau secara institusi.

“Mungkin kita pernah dengar, dulu Ketua Umum PBNU dihujat dan difitnah karena berbicara semakin panjang jenggotnya semakin goblok orangnya. Padahal Kyai Said waktu itu sedang ceramah di pesantren, itu ceramah dikalangan warga NU, dimana pimpinan tertinggi NU hadir disana.” Katanya.

Kyai Said lanjut Gus Ishom, sedang menyampaikan bahwa ia tidak ingin orang-orang NU hanya hebat dalam tampilan belaka, manjangin jenggot, jubahan, dahi dihitakman, tapi tidak hebat dalam jiwanya, ahlaknya dan dalam keilmuannya.

“Ketua NU ingin mengatakan Hei orang-orang NU jangan hanya panjangan jenggot, tapi ilmu dan wawasan mu tidak luas, ahlak mu tidak baik. Namun karena ada orang-orang yang benci, akhirnya video itu dipotong dan disebarkan oleh orang tak bertanggung jawab untuk mencaci maki Kyai Said”, katanya.

Gus Ishom mengatakan Ketua PBNU bukan orang bodoh, ia belajar di pondok pesantren puluhan tahun.

“Saya katakan bahwa apa yang disampaikan ketua PBNU, ada rujukannya dari kitab-kitab terdahulu”, lanjutnya.

Sekarang orang beragama lebih banyak memperhatikan penampilan fisik saja, pakaian ada pakaian syari, jilbab syar’i, padahal dulu orang tua kita dulu pakai jilbab seadanya.

“Saya katakan, Silahkan saja mau pakai baju, jilbab, celana seperti apa juga, tapi jangan pernah mudah mengkafirkan sesama muslim,” lanjut Gus Ishom.

Kondisi keberagamaan  umat islam Indonesia baru Nampak lahiriyah nya saja, belum pada kualitas keilmuannya.

“Contoh anak yang kuliah baru belajar beragama, pulang ke desa tiba-tiba celananya jadi cingkrang, dahinya hitam, silahkan saja ga ada masalah,  tapi jangan menyalahkan orang lain yg celananya melampaui mata kaki. Padahal Abu Bakar Siddiq dulu jubahnya melampaui mata kaki. Pembelajarannya adalah dengan berpakaian kita tidak boleh menyombongkan diri.” Pungkasnya. (Redaksi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *