Kemenag – LFNU Kota Tasik Ikuti Rukyatul Hilal Penentuan Awal Dzulhijjah 1441 H

Tasikmalaya, NU Tasik Online – Bulan Dzulhijah 1441 H telah memasuki usia ke-29 hari pada Selasa (21/7). Lembaga Falakiyah Nahdlatul Ulama (LFNU) Kota Tasikmalaya mengikuti dan turut menyaksikan prosesi rukyat untuk menentukan tanggal 1 Dzulhijah yang dilakukan oleh Badan Hisab dan Rukyat Daerah Kota Tasikmalaya di Pondok Bali Kabupaten Subang.

Dalam kegiatan ini, turut hadir Kepala Bagian TU Kementerian Agama Kota Tasikmalaya, Kepala Bagian Kesra Kota Tasikmalaya, Kasi Bimas Kemenag Kota Tasikmalaya.

Baca Juga : Diklat SADESHA Angkatan Lima

Ketua LFNU PCNU Kota Tasikmalaya, Husni Mubarok mengatakan Kegiatan rukyat ini adalah sebagian kegiatan syariat agama yang dijadikan landasan dalam penentuan Awal bulan Hijriyah.

“Dalam hal ini rukyat dilakukan untuk menentukan kapan dilaksanakannya Ibadah puasa Sunnah Arafah, dan tentunya yang paling penting adalah hari raya idul Adha 1441 H”, ujarnya kepada NU Tasik Online .

Husni melanjutkan, Nahdlatul Ulama berpegang teguh terhadap perintah Nabi Muhammad SAW tentang Rukyat bil fi’li yang didukung oleh hasil Perhitungan (Hisab).

Metode rukyat adalah melihat dan mengamati hilal langsung di lapangan pada hari ke 29 atau malam ke 30, dari bulan yang sedang berjalan. Jika hilal dapat terlihat, maka pada malam itu dimulai tanggal satu bulan baru atas dasar rukyatulhilal.

Namun jika hilal tidak terlihat mata telanjang, maka malam itu adalah tanggal 30 bulan yang sedang berjalan. Malam berikutnya dimulai tanggal satu bagi bulan baru atas dasar istikmal. Arti istikmal adalah menggenapkan satu bulan menjadi 30 hari sebelum masuk bulan baru.

Hilal adalah bulan sabit muda sangat tipis yang menandakan awal fase bulan baru. Melihat hilal dengan mata telanjang sesungguhnya sangat sulit karena kerap bias dengan cahaya matanari. Apalagi jika cuaca sedang mendung sehingga langit cenderung gelap.

Untuk melihat hilal, biasanya posisi bulan harus berada dua derajat di atas matahari. Syarat lainnya adalah jarak elongasi dari matahari ke arah kanan atau kiri. Semakin lebar maka makin mudah melihat hilal dengan mata telanjang. Hal inilah yang mengharuskan pengamatan hilal dibantu teleskop, plus dukungan perhitungan hisab.

Mengutip situs Lembaga Falakiyah PBNU diterangkan, ada beberapa ayat dalam Al-Qur’an dan hadist yang dipahami sebagai perintah rukyat. Salah satunya dalam surat Al-Baqarah ayat 189.

Yang Artinya: Mereka bertanya kepadamu tentang bulan sabit. Katakanlah: “Bulan sabit itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan (bagi ibadat) haji; Dan bukanlah kebajikan memasuki rumah-rumah dari belakangnya, akan tetapi kebajikan itu ialah kebajikan orang yang bertakwa. Dan masuklah ke rumah-rumah itu dari pintu-pintunya; dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung.

Pemahaman ayat tersebut bersifat ta’abbuddiy, yaitu harus diikuti tanpa mempertanyakan alasan sebuah perintah syariah agama. Dengan prinsip itulah, tiap tahun NU melakukan rukyatul hilal bil fi’li yaitu melihat bulan langsung di lapangan. (Red)

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *