Kisah Nabi Syam’un Al-Ghaazi dan Keunggulan Malam Lailatul Qodar

Siapa yang belum pernah mendengar Malam Lailatul Qodar ? yaitu malam yang sangat diburu oleh kaum muslim di Bulan Ramadhan. Pasalnya, tidak ada yang tau di malam ke berapakah Lailatu Qodar berada. Pahalanya juga sangat menggiurkan yaitu satu kali beribadah pada Malam ini lebih baik daripada beribadah 1000 bulan.

Namun  tidak akan membahas perihal perbedaan pendapat para ulama mengenai di malam ke berapakah Lailatul Qadar itu turun.

Lebih dari itu, mengenai ini ada suatu kisah menarik yaitu kisah Nabi Syam’un Al-Ghaazi yang beribadah dan berperang selama 1000 bulan, kisah ini ditemukan di dalam kitab Durratunnasihin halaman 270 cetakan haromain.

Dulu di Bani Israil hiduplah seorang Nabi yang bernama Syam’un Al-Ghaazi (seorang ahli perang). Dia memerangi orang-orang kafir selama 1000 bulan. Senjata yang ia gunakan hanyalah tulang rahang unta, namun hebatnya  bila tulang itu dipukulkan kepada musuhnya (orang-orang kafir), maka seketika itu musuhnya mati. Apabila Syam’un haus, maka dari celah gigi senjatanya itu keluar air tawar lalu diminumnya. Dan bila ia lapar,  dari tulang itu tumbuh daging lalu ia memakannya.

Dengan hanya bersenjatakan tulang rahang seekor unta yang dibentuk menyerupai sebuah pedang pendek yang tajam, Nabi Syam’un berperang melawan bangsa yang menentang Allah SWT,

Ketangguhan dan keperkasaan Nabi Syam’un dipergunakan untuk menentang penguasa kaum kafirin saat itu, yakni Raja Israil.

Dengan segala kehebatannya itu, ia dibenci oleh para musuh, terutama dari golongan orang kafir. Akhirnya, dibuatlah suatu rencana untuk membunuh Nabi Syam’un.

Maka sang Raja Israil mencari jalan untuk menundukkan Nabi Syam’un itu. Berbagai upaya pun dilakukan olehnya, sehingga akhirnya atas nasehat para penasehatnya, diumumkanlah barang siapa yang dapat menangkap Syam’un Al-Ghaazi, akan mendapat hadiah emas dan permata yang berlimpah.

Akhirnya ide licik-pun ditemukan, mereka menawarkan hadiah berupa uang dan perhiasan yang berlimpah kepada istri Nabi Syam’un dengan syarat ia bersedia melumpuhkan suaminya. Istri Nabi yang ternyata seorang kafir, sangat tergiur oleh hadiah itu sehingga kemudian mereka memanfaatkan Istri Nabi Syam’un, untuk ikut membantu membunuh suaminya.

Maka orang kafir memberikan ide agar dia mengikat tangan dan kaki Syam’un sewaktu ia tidur, untuk kemudian akan dibunuh beramai-ramai.

“Kami akan memberimu seutas tali kuat, ikatlah tangan dan kakinya ketika dia tidur, nanti setelah itu kamilah yang bertindak untuk membunuhnya.” Kata pembesar kafir.

Di hari pertama Istri Syam’un gagal karena ketiduran yang disebabkan karena suaminya terlalu lama mengerjakan shalat malam, sehingga membuat istri Syam’un tak kuasa menahan kantuk yang amat sangat.

Memang Nabi Syam’un dalam semalam tidurnya hanya sedikit saja, karena malam-malamnya hanya dipergunakan untuk beribadah kepada Allah SWT.

Keesokan harinya, istri Nabi Syam’un lapor kepada kaum kafir bahwa dia belum berhasil mengikat tangan dan kaki suaminya, namun mereka tidak mempermasalahkan hal itu.

Pada hari kedua, Istri Nabi Syam’un berhasil mengikat suaminya ketika tidur dengan seutas tali yang kuat.

Tatkala Syam’un bangun dan ingin beribadah kepada Allah SWT, ia terkejut karena kedua kakinya terikat.

“Wahai istriku, siapakah yang mengikatku dengan tali ini?” tanya Syam’un kepada istrinya.

Aku yang mengikat, hanya sekedar mengujimu sejauh mana kekuatanmu,” ujar istrinya.

Maka Nabi Syam’un dengan mudah dapat melepaskan tali yang mengikatnya dengan satu ucapan doa, kemudian Nabi Syam’un bergegas menuju tempat peribadatannya.

Maka gagal lah rencana pembunuhan pada hari kedua itu.

Namun setelah itu, orang-orang kafir datang lagi kepada istri Nabi Syam’un dengan membawa rantai untuk istri Nabi Syam’un, dan istri Nabi Syam’un pun siapa mengikat suaminya lagi pada keesokan malamnya.

Pada hari ketiga, istri Syam’un itu berhasil mengikat suaminya dengan rantai pemberian orang-orang kafir.

“Wahai istriku, siapakah yang mengikatku kali ini?,” tanya Syam’un dengan nada agak marah ketika bangun dari tidur.

“Aku yang mengikatnya, sekedar untuk mengujimu,” jawab istrinya.

Namun, seperti biasa dengan sekali hentakan Syam’un dapat menghancurkan rantai tersebut. Lalu Syam’un segera menarik tangannya dan memotong rantai itu, kemudian istrinya pun segera membujuk Nabi Syam’un agar mau menceritakan rahasia kekuatan tubuh yang dimiliki suaminya.

Akhirnya Syam’un bercerita juga, bahwa sebenarnya ia adalah seorang wali dari sekian banyak waliyullah yang hidup di dunia ini.

“Wahai istriku aku wali di antara wali  Allah, segala perkara dunia ini tidak ada yang sanggup mengalahkan diriku, aku punya rambut panjang ini, ketahuilah bahwa tidak ada seorang pun yang mampu mengalahkanku dalam perkara dunia kecuali rambutku ini,” jelas Syam’un.

Karena sudah mengetahui kelemahan suaminya, akhirnya pada saat Nabi Syam’un tidur mulailah istrinya mengikat tangan Syam’un dengan 4 helai rambutnya dan mengikat pula kakinya dengan 4 helai rambut milik Syam’un, sementara Syam’un tetap dalam tidurnya.

Setelah bangun, Syam’un bertanya, “Wahai istriku, siapakah yang mengikatku ini?”

“Aku, untuk mengujimu,” jawab istrinya yang mulai ketakutan.

Setelah itu Syam’un berusaha dengan sekuat tenaga untuk melepaskan ikatan itu, namun dia tidak berdaya untuk memotongnya. Seketika itu si istri langsung saja memberitahukan kepada kaum kafir tentang hal ini. Lalu Nabi Syam’un Al-Ghaazi As dibawa ke istana dihadapkan kepada Raja Kafir lalu diikat pada tiang utama istana dan dipertontonkan kepada khalayak istana.

Mulailah mereka memotong kedua telinga, bibir, kedua tangan dan kakinya. tidak hanya itu, Nabi juga disiksa dengan dibutakan kedua matanya, Tiada lain mereka menyiksa Nabi dengan tujuan agar beliau mati secara perlahan-lahan.

Istrinya yang jahat pun ikut pula menyaksikan penyiksaan tersebut tanpa rasa belas kasihan. Astaghfirullah sungguh biadab ya.

Pertolongan Allah SWT pun datang lewat perantaraan Malaikat Jibril yang  berbicara dengan suaranya, yang hanya bisa didengar oleh Nabi Syam’un Al-Ghaazi As.

“Hai Syam’un apa yang engkau inginkan, Aku akan menindak mereka.”

Nabi menjawab, “Ya Allah, berikanlah kekuatan kepadaku hingga aku mampu menggerakkan tiang istana ini, dan akan kuhancurkan mereka dengan kekuatan dari Mu. Bismillahirrahmanirrahim La haula wa la quwwata illa billah.”

Do’a Nabi Syam’un Al-Ghaazi As dikabulkan Allah SWT. Dan diberi kekuatan yang kekuatannya tidak bisa dibayangkan dan melebihi kekuatan dari rambutnya sendiri. Maka dengan izin Allah, Nabi Syam’un Al-Ghaazi As menggoyangkan tiang istana tersebut,

Syam’un hanya beringsut sedikit saja, putuslah tali rambut itu bahkan tiang itupun rubuh menimpa raja bersama seluruh khalayak istana termasuk istrinya yang durhaka dan orang-orang yang telah menyiksanya. Tiangnya juga ikut roboh dan hancur lebur. istana yang dijadikan tempat pembantaian itu juga turut hancur dan atapnya menimpa orang-orang kafir dan semuanya mati. Begitu juga dengan istrinya ikut tertimpa reruntuhan gedung istana raja kafir, Mereka semua mati tertimpa reruntuhan bangunan istana dan terkubur didalamnya. Hanya Nabi Syam’un sendiri yang selamat.

lalu Allah mengembalikan seluruh anggota badan yang telah terpotong dan menyembuhkan segala sakitnya, dan setelah peristiwa itu, Nabi Syam’un Al-Ghaazi As bersumpah kepada Allah SWT akan menebus semua dosanya dengan berjuang menumpas semua kebatilan dan kekufuran selama 1000 bulan tanpa henti.

Bukan hanya itu, Nabi Syam’un  Al-Ghaazi pun akan menyibukkan dirinya untuk beribadah kepada Allah. Malam harinya dilalui dengan memperbanyak shalat malam, sedangkan siangnya beliau berpuasa. ia menjalankan ibadahnya selama 1000 bulan hingga ajalnya tiba.

Nah!!, Setelah mendengar kisah Nabi Syam’un Al-Ghaazi As, para sahabat Nabi Muhammad saw menangis terharu, dan bertanya kepada Nabi Muhammad SAW. “Ya Rasullulah, tahukah baginda akan pahalanya?” Jawab Rasulullah, “Aku tidak mengetahuinya.”

Setelah Rasulullah selesai berkisah, Allah SWT menyuruh Malaikat Jibril datang kepada Nabi Muhammad dan menurunkan Surat Al Qadr.

“Hai Muhammad, Allah memberi Lailatul Qadar kepadamu dan umatmu, ibadah pada malam itu lebih utama daripada ibadah 1000 bulan,” ujar Malaikat Jibril.

Semoga kita para pemburu Malam Lailatul Qodar mendapatkan kesempatan beribadah pada malam itu.

Oleh Ilham Abdul Jabar

Editor : Bari

Share

One Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *