Lakpesdam PC NU Kota Tasikmalaya dan FBTI berhasil gelar Tadarus kebangsaan

Banyaknya Diskriminasi SARA (Suku, Agama, Ras, dan Budaya) yang terjadi di negeri ini, menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia belum sepenuhnya mampu memahami, menyikapi, dan mengelola keragaman dan perbedaan yang dimiliki.
Sekretaris LAKPESDAM, Ajat Sudrajat mengatakan Di Tasikmalaya masih ada kelompok kepercayaan yang mendapat diskriminasi, mulai dari penyegelan ibadah, stigma negatif, dan catatan pernikahan. Keragaman yang dibanggakan justru menjadi bumerang bagi Indonesia.

Selain itu, sampai dengan hari ini, Bhinneka Tunggal Ika dan Pancasila masih sebatas jargon atau semboyan semata. Belum ada semangat dari bangsa Indonesia untuk mengamalkan dan mengejawantahkannya dalam kehidupan sehari-hari. Contoh nyata dari kenyataan ini adalah ketika sentimen agama muncul ke permukaan, serta merta direspon oleh masyarakat dengan reaksi yang berlebihan. Ironisnya, pemerintah dan aparat penegak hukum terkesan setengah hati menyelesaikan konflik-konflik SARA yang terjadi. Bahkan dalam beberapa kasus, oknum aparat pemerintah dan pengegak hukum justru menjadi bagian dari konflik.

Kondisi di atas diperparah dengan semakin merebaknya isu fundamentalisme, radikalisme, dan terorisme di tengah masyarakat. Munculnya isu-isu ini tak lepas dari keberagamaan beberapa masyarakat Indonesia yang masih tekstualis, eksklusif, dan superior. Sikap demikian inilah yang semakin mempersempit ruang ruang dialog lintas agama.

Kami berpandangan dengan adanya ruang interaksi sosial lintas identitas keagamaan dan kepercayaan yang dibangun oleh LAKPESDAM dan FBTI selama ini, akan menghasilkan sikap ramah dan toleran terhadap perbedaan yg ada.

Atas dasar itu, LAKPESDAM dan FBTI menggelar sebuah kegiatan Tadarus Kebangsaan, Tema Pengarusutamaan Islam Washatiyah , sebagai upaya Menghadapi Paham Radikalisme-Terorisme Berbasis Agama ”
Islam Wasathiyah dimaknai sebagai ajaran Islam rahmatan lil alamin, rahmat bagi seluruh alam semesta. Islam Wasathiyah adalah ‘Islam Tengah’ untuk terwujudnya umat terbaik (khairu ummah).

Hadir dalam kegiatan diatas sebagai narasumber, Ketua FBTI Asep Rizal Asyari, Kasat Intel Polresta Tasikmalaya Didik Rohim Hadi, M.SI, Ketua DPC PERADI Tasikmalaya Andi Ibnu Hadi, SH. Kyai Muda KH Danial Hilmi Pimp Ponpes Manbaul Huda, Sekjen ISNU Kota Tasikmalaya MHasan Asyari, Mubaligh JAI, Aang Kunaefi.

Peserta yang hadir komunitas Doeum Bhinneka Tunggal Ika ( FBTI ) terdiri dari lintas agama dan kepercayaan se Tasikmalaya.

LAKPESDAM dan FBTI berkomitmen menjadi bagian gerakan masyarakat sipil yang senantiasa memperjuangakan keadilan dan kesetraaan bagi setiap pemeluk agama dan kepercayaan di Tasikmalaya.

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *