Mbah Maimoen: Manusia Dinilai ketika Ia Wafat

‘Manusia dinilai ketika ia sudah meninggal’. Pesan tersebut terngiang di tengah ribuan jamaah yang hadir pada acara Haul ke-9 KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) di Ciganjur, Jakarta Selatan, Jumat (21/12) tahun lalu. Dawuh itu Mbah Maimoen sampaikan agar setiap Muslim punya motivasi berbuat kebaikan ketika hidup sehingga dikenang baik ketika ia wafat.

Awalnya, Pengasuh Pondok Pesantren Al-Anwar Sarang, Rembang, Jawa Tengah ini menyebut bahwa Gus Dur sangat memahami nilai-nilai kemanusiaan (insaniyah). Ia juga sosok yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan. Kemudian menggunakan asas kemanusiaan untuk menyatukan manusia.

Waktu meninggal inilah seseorang bisa dilihat nilainya. Seperti Gus Dur yang selalu diperingati hari wafatnya menunjukkan ia orang yang sangat dicintai. Kita menyebutnya sebagai haul.

Mbah Maimoen mengingatkan kita semua bahwa kemanusiaan harus diletakkan di atas segala hal. Karena jika kita mencintai manusia dan memanusiakan manusia, kita akan diangkat derajatnya oleh Allah SWT.

“Saya yakin keberadaan hadirin di sini karena kecintaannya kepada Gus Dur,” ucap Mbah Maimoen yang saat itu juga menekankan pentingnya meneguhkan pilar-pilar kebangsaan untuk menegakkan agama dan membangun kemanusiaan.

Wafat di Makkah

Kini, ulama kharismatik yang lahir pada 28 Oktober 1928 itu telah menghembuskan nafas terkahirnya di Makkah, Arab Saudi pada Selasa (6/8/2019) sekitar pukul 04.17 waktu setempat. Beliau meninggal ketika hendak melaksanakan ibadah haji yang tinggal menghitung hari.

Menurut informasi yang berhasil ditelusuri NU Online, ulama sepuh yang telah mencapai usia 91 tahun itu meninggal di kamar nomor 1423 di tempat penginapannya di Makkah. Beliau sempat dilarikan ke rumah sakit setempat.

Kabar meninggalnya Mbah Maimoen salah satunya datang dari Ketua Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI) PBNU KH Abdul Ghafarrozin.

“Innalillahi wa inna ilahi raji’un. Nembe mawon kapundut Simbah Maimoen Zubair wonten Makkah (baru saja wafat Syekh Maimoen Zubair di Makkah),” katanya dalam sebuah pesan singkat.

Komitmen Kebangsaan

Di usia senjanya, tidak membuat Mbah Maimoen absen dalam persoalan umat, ilmu, dan kebangsaan. Beliau tidak sedikit pun terlihat letih ketika menghadiri Konferensi Bela Negara di Pekalongan, Jawa Tengah 2016 lalu.

Selain bersua dengan banyak ulama-ulama tahariqah dunia, beliau juga ingin menegaskan bahwa seberat apapun beban yang yang harus dipikul, membela agama, bangsa, dan negara harus menjadi perhatian dan tugas bersama.

Setahun sebelumnya, semangat kebangsaan juga ditunjukkan Mbah Maimoen yang tetap berdiri ketika menyanyikan lagu Indonesia Raya di pembukaan Muktamar ke-33 NU di Jombang tahun 2015 di tengah kondisi fisiknya yang tidak menentu.

Meskipun beliau hadir dengan menggunakan kursi roda namun tetap berdiri ketika sesi menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya. Tanpa dipapah oleh siapapun, seketika itu beliau berdiri. Momen itu direkam langsung oleh putri sulung Gus Dur Alissa Wahid yang menyaksikan kejadian tersebut yang kemudian viral di jagat maya.

Semangat yang sama juga Mbah Moen tunjukkan ketika membakar semangat anak-anak muda NU di arena Muktamar tersebut. Mbah Moen memberikan materi tantangan kaum muda NU di masa depan yang semakin kompleks karena tidak hanya menghadapi kelompok-kelompok yang membahayakan keutuhan negara, tetapi juga dunia teknologi yang makin berkembang pesat. Kini semangat serupa ditunjukkan oleh ulama kharismatik itu dalam kegiatan dengan esensi Bela Negara tersebut.

Teladan Mulia

Dalam hal keilmuan dan belajar, Mbah Maimoen memperlihatkan sosok guru teladan. Di usia yang sama ketika orang lain harus menggunakan bantuan kaca mata untuk melihat dan membaca, Mbah Maimoen masih jelas melihat dan membaca tanpa bantuan kaca mata. Kitab kuning menjadi santapan sehari-harinya di pesantren. Beliau juga masih tegar setiap memimpin shalat berjamaah di pesantrennya.

Hal itu terlihat ketika NU Online berkunjung ke ndalem beliau di Pondok Pesantren Al-Anwar Sarang pada awal tahun 2017, tepatnya Rabu (15/1/2017) menjelang sore pukul 14.31 WIB. Kebersahajaan, kharisma, dan akhlak Mbah Maimoen melekat kepada setiap santrinya.

Kemurnian para santri dalam mengabdi dan menimba ilmu kepada Mbah Maimoen tak pernah surut. Bagi mereka, suatu kebahagiaan dan keberkahan tak ternilai bisa menggandeng kiai sepuh setiap hari menuju masjid tempat shalat berjamaah.

Sementara santri lainnya nampak membetulkan arah sandal Mbah Maimoen agar beliau tidak terlalu sulit memakainya ketika keluar masjid. Di sejumlah pesantren, perilaku santri membetulkan sandal agar siap pakai memang bukan hal baru. Bahkan para santri sering melakukan tradisi tersebut ketika kiainya didatangi para tamu.

Ketika Mbah Maimoen keluar masjid selesai mengimami shalat, salah seorang santri bahkan secepat kilat datang di hadapan Mbah Maimoen untuk memakaikan sandal di kakinya. Dari pemandangan tersebut, nampak jelas pesantren tidak hanya berisi samudera ilmu, tetapi juga penuh dengan gunungan akhlak mulia yang tertanam begitu dalam pada diri para santri.

Pesan tentang Ilmu

Dalam persoalanhal menimba ilmu, Mbah Maimoen menyatakan bahwa ilmu itu harus didatangi oleh manusia, karena ia tidak mendatangi. Sebab itu, kehadiran setiap orang dengan maksud memperkokoh keilmuan merupakan langkah yang tepat. Apalagi sekaligus menelusuri sanadnya sehingga ilmu itu menyambung hingga ke pucuk sumber yang shahih, yaitu Nabi Muhammad.

“al-ilmu yu’ta wa la ya’tii. Ilmu itu didatangi bukan mendatangi dirimu,” tutur Mbah Maimoen Zubair dengan penuh kehikmatan menerangkan kepada para tamu.

Mbah Maimoen mengumpamakan air di dalam sumur yang harus ditimba. “Sebagaimana kita menginginkan air di dalam sumur, kita harus menimbanya,” ujar Mbah Maimoen kala itu.

Tak hanya terkait dengan esensi ilmu yang manusia harus terus menerus menimba dan belajar, tetapi juga berbagai persoalan bangsa maupun penjelasan sejarah meluncur deras dari mulutnya sehingga para tamu nampak makin khidmat dalam menyimak paparan-paparan Mbah Maimoen.

Terkait dengan persoalan kebangsaan dan politik yang terus mengalami turbulensi dari tahun ke tahun, Mbah Maimoen berpesan agar tidak semua orang ikut larut dalam permasalahan sehingga melupakan tugas terdekatnya sebagai manusia. Hal ini akan berdampak pada ketidakseimbangan hidup dan kehidupan itu sendiri.

Selamat jalan Mbah Moen, teruslah tuntun kami yang masih ada di alam dunia ini…

Sumber : NU Online

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *