Mengenal Mahbub Djunaedi, Sosok Muda NU yang Kritis Produktif dan Bersahaja

Mahbub Djuniadi lahir 27 juli 1933 di Jakarta dari pasangan KH.Djunaidi dan Muksinati, mahbub sejak kecil sudah rajin membaca diantara teman-temannya. Pemikiran sastra bahasannya sudah tumbuh sejak dini dan di buktikan dengan karya syair yang di buat sejak sekolah dasar. Pada saat bersamaan mahbub pun sudah gemar membaca dari mulai koran, majalah dan buku-buku lainnya.

Tahun 1946 mahbub kecil di bawa ke pengungsian oleh ayahnya di solo, karena pada saat itu jakarta di kuasai lagi oleh belanda. Tetapi mahbub tidak menghilangkan kebiasaan membacanya walaupun di pengungsian dengan kondisi yang tidak memungkinkan. Mahbub tidak berhenti dengan hobinya dan mengasah karya tulisannya serta koleksi buku bacaannya terus bertambah dari mulai syairan-syairan hingga buku lainnya seperti yang terkenal yaitu mark twain, layar berkembang karya Sutan Takdir Alisjahbana, dll.

Mahbub sangat di gemari oleh sahabat-sahabatnya karena beliau adalah sosok yang humoris dan literatur yang kuat serta mempunyai karakter kuat,  aktif dan mau mencoba hal hal baru termasuk mengikuti permainan anak pada umumnya.

Pada tahun 1950 mahbub kembali ke jakarta dan bersekolah di budi utomomo salah satu smp di jakarta, dan mulai mengikuti organisasi IPPI serta mengasah skill menulisnya lebih tajam, terbukti pada waktu itu mahbub menjadi juara pertama lomba mengarang se-Jakarta. Mahbub menyelesaikan sekolahnya dengan hasil akademik yang baik dan mendapatkan berbagai prestasi non akademik pula. Selain aktif di berbagai organisasi, tetapi bisa menyeimbangkan dalam hal akademiknya dan terbukti nilai ijazah yang di atas rata-rata.

Dengan nilai akademik yang bagus mahbub pun di terima di universitas indonesia fakultas Hukum. Sementara mahbub pernah masuk di HMI dan menduduki jabatan strategis di PB HMI, karena pada saat itu belum adanya organisasi mahasiswa Nahdlatul Ulama. Kemudian pada tahun 1960 hasrat yang kuat dari kalangan mahasiswa Nahdlatul Ulama untuk mendirikan organisasi mahasiswa, yang kemudian lahirlah Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia [PMII].

PMII lahir pada tanggal 17 April 1960 di Wonokromo Surabaya, Mahbub adalah orang yang pertama menjadi ketua PMII sekaligus pendiri salah satu organisasi terbesar sampai saat ini. Dan pada saat yang bersamaan mahasiswa kalangan NU yang tergabung di berbagai organisasi mahasiswa seperti HMI,KAMI,IMM,PERTI dan lainnya berbondong-bondong pindah haluan memilih di PMII.

PMII pada saat itu walaupun organisasi yang baru lahir tetapi eksistensinya terus meningkat dan di segani organisasi lain. Mahbub sering menjadi pembicara di acara nasional dan konsolidasi ke daerah daerah sehingga basis kadernya terus bertambah. Kemudia dengan pemikiran-pemikirannya membuat orang tertarik masuk ke PMII salah satunya ‘’ ILMU UNTUK DIAMALKAN, BUKAN ILMU UNTUK ILMU ’’ dan itu di akui oleh sahabat-sahabatnya, salah satunya Chalid Mawardi mengatakan ‘ Mahbub adalah orang yang tepat menjadi ketua PMII’. Terbukti sampai saat ini PMII masih tetap eksis dan semakin besar.

Masih banyak lagi kontribusi Mahbub di PMII diantaranya teks tujuan “Terbentuknya pribadi muslim Indonesia yang bertakwa kepada Allah SWT, berbudi luhur, berilmu, cakap dan bertanggung jawab dalam mengamalkan ilmunya serta komitmen memperjuangkan cita-cita kemerdekaan Indonesia.” Termaktub dalam Anggaran Dasar PMII BAB IV Pasal 4 dan  mars PMII, serta masih banyak yang lainnya.

Pada saat itu mahbub pun di tunjuk oleh KH. Saifudin Zuhri sebagai duta wartawan masyarakat. Kemudian selang waktu dua tahun diangkat menjadi pimpinan redaksi. Lewat tulisannya soekarno pun terkesima, hingga Mahbub di kenalkan dengan soekarno lewat KH. Saifudin Zuhri. Mahbub pun menjadi salah satu teman dekat bung karno karena ada kesamaan pemikiran di antara mereka tentang kebangsaan. Mahbub sering ngobrol bareng dengan soekarno di halaman istana presiden  tentang kondisi persoalan bangsa masa itu hingga kedepanya seperti apa.

Tetapi walaupun kedekatan mahbub dengan soekarno sangat akrab tidak mengurangi nalar kritis kepadanya. Salah satunya menolak Indonesia keluar dari PBB dan mendirikan The New Emerging Force [CONEFO]. Pada saat itu rasional mahbub kepada soekarno berkenaan dengan pembiayaan yang akan menyulitkan Indonesia. Kemudian menetapkan Indonesia sebagai Negara maritim, bukan Negara agraris, karena sejarah bangsa kita adalah pelaut yang akan menguasai Dunia.

Pada saat jatuhnya soekarno, mahbub tidak di berada di barisan Subhan ZE bintang politik NU. Tetapi masih sangat dekat dengan orang-orang Nahdlatul Ulama dan tidak kehilangan nalar kritisnya yang kemudian pada tahun 1972 setelah wafatnya Subhan ZE, Mahbub tampil mengisi salah satu kekosongan intelektual di NU. Pada saat itu mahbub ikut memantik terciptanya orde baru dalam gerakan mahasiswa pada tahun 1977 jelang pemilu 1978. Beliau menilai Negara saat itu sudah tidak demokrasi lagi. Walaupun ada tiga partai politik besar,tapi hanya golkar yang lainnya di diskriminasi dan hanya sebagai pelengkap saja. Mahbub waktu itu menjadi idola bagi kaum mahasiswa, dengan pemikirannya beliau sering mengisi di tiap-tiap kampus besar terutama lewat tulisan-tulisannya yang membuat berdecak kagum setiap pembaca.

Hingga pada akhirnya mahbub di jemput dari rumahnya dan menjadi tahanan politik di nirbaya. Mahbub sempat di tawari jadi dubes dan posisi jabatan strategis lainnya, tetapi beliau menolak semua tawaran dari rezim pada saat itu. Walaupun di dalam tahanan, mahbub tidak menghilangkan kebiasaan membaca dan menulisnya serta membaca informasi-informasi yang beredar di luar melalui Koran yang dibawakan bersama bungkus nasi oleh sahabat-sahabatnya, kemudian tulisan-tulisannya di sisipkan ke dalam pakaian kotor yang di bawa istrinya. Meski di dalam tahanan tetapi pemikirannya ramai di khalayak dan menjadi opini publik, sehingga beberapa Koran di bredel oleh pemerintah. Kemdian mahbub di bebaskan beberapa minggu jelang penetapan soeharto menjadi presiden terpilih.

Mejadi tahanan politik tidak membuat kapok, justru nalar kritiknya semakin tajam dan keras.  Termasuk terciptanya NU kembali ke Khittah,  dengan keluar dari PPP dan kembali ke organisasi jamiyah serta mendirikan partai politik sendiri. Karena NU bukan organisasi politik, tetapi memfasilitasi orang-orang NU tetap berpolitik. Dalam artian politik kemanusiaan dan kebangsaan.

Awal tahun 90 mahbub lebih menghabiskan waktunya dengan menulis dan mengajar, karena kesehatannya yang semakin menurun. Dan padah akhir hayatnya mahbub meninggal pada tanggal 1 Oktober 1995. Lewat tulisan tulisannya hingga saat ini masih tetap di kenang, dan bahkan sampai saat ini tidak ada yang pernah mampu menggantikan sosok beliau.

Barirosdi Amrulloh

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *