PAC Ansor ‘NGOPI’ di Mangkubumi

NUTasik Online – Banyak hal yang bisa dilakukan dalam mempelajari ilmu, apalagi bagi muda-mudi yang memiliki kesibukan tersendiri sehingga hanya memiliki sedikit waktu untuk belajar. Untuk itulah PAC Ansor Mangkubumi rutin menggelar kegiatan Ngobrol Perkara Ilmu (Ngopi) untuk menambah wawasan ke Islaman dan kebangsaan para pemuda di Kecamatan Mangkubumi, Kota Tasikmalaya.

Kajian ini dilaksnakan pada, Sabtu (28/12) bertempat di mesjid Sabilul Muslimin, Linggajaya. Ketua PAC Mangkubumi Paris Rizki Febriansyah mengatakan bulan ini Ansor mengambil tema Belajar hukum dasar dalam perspektif umum dan agama.

“Tema ini sengaja diangkat dengan tujuan Agar anggota PAC Mangkubumi bisa lebih bijak dalam menggunakan media sosial”, katanya.

 

Dalam kegiatan itu, hadir sebagai narasumber Pimpinan Ponpes Manbaul Huda, KH. Danial Hilmi, dan Aktifis Muda NU, Eki Sirojul Baehaqi.

Pada kesempatan itu, KH Danial menyampaikan sebuah dalil tentang larangan dalam menyebar berita palsu, fitnah dan bernada kebencian.

“Allah SWT telah mewanti-wanti umat Islam untuk tidak gegabah dalam membenarkan sebuah berita yang disampaikan oleh orang-orang fasik yang termasuk di dalamnya orang-orang yang belum diketahui secara jelas sikap dan perilaku (kejujuran)-nya,” papar Kh Danial.

Dalam QS al-Hujurat ayat 6 yang artinya, Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, Maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.

Syeikh Thahir ibn Asyur, ahli tafsir kenamaan asal Tunisia, dalam kitabnya berjudul tafsir at-tahrir wa at-tanwir, dalam menafsirkan ayat di atas memberikan sebuah penjelasan bahwa ayat ini menegaskan kepada umat Islam agar berhati-hati dalam menerima laporan atau berita seseorang yang tidak diketahui asal-usulnya. Hal ini baik dalam ranah persaksian maupun dalam periwayatan.

Dalam konteks hari ini, kita dituntut agar berhati-hati dalam menerima pemberitaan dari media apapun, terlebih media atau informasi dari seseorang yang isinya sarat dengan muatan kebencian kepada pihak lain.

Selain itu, menurut Imam Al-Mawardi dalam kitab yang sama juga dijelaskan bahwa efek negatif dari pemberitaan hoaks adalah hilangnya rasa aman dan rasa tenteram. Yang ada kecurigaan, waswas, dan ketegangan.

“Bohong itu pusat kejahatan dan asal segala perilaku tercela karena keburukan konsekuensi dan kekejian dampaknya. Bohong melahirkan adu domba. Adu domba menghasilkan kebencian. Kebencian mengundang permusuhan. Di dalam suasana permusuhan tidak ada rasa aman dan relaksasi,”

Sedangkan Eki menyampaikan materi tentang Undang-undang ITE, ia mengatakan harus diakui, meskipun ada UU ITE, sampai sekarang kita belum memiliki mekanisme bagaimana melakukan pencegahan terhadap hoaks secara efektif.

“Dalam platform terbuka seperti YouTube, Facebook, Twitter, dan Instagram, memutus mata rantai hoaks sangat mudah dan pelakunya lekas bisa dicari. Tapi, ini tidak mudah untuk WhatsApp yang sifatnya semi privat dan tertutup. Setiap hoaks yang muncul dalam WhatsApp sangat sulit untuk diklarifikasi kecuali dalam anggota grup WhatsApp sendiri. Di sisi lain, orang seringkali juga mencari aman sehingga lebih baik diam”, katanya.

Akibatnya, propaganda dan hoaks bisa berkecambah dan beranak pinak. Yang terdampak bukan hanya orang yang berpendidikan rendah, melainkan mereka yang sudah sampai level S3 dan bahkan di bidang humaniora yang seharusnya memiliki tindakan mekanisme proteksi hoaks dengan analisis keilmuan yang dimilikinya. (Irman)

Share

One Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *