Pancasila dalam Petuah Ulama di Munas dan Konbes Citangkolo

Banjar,
Jika ada sekelompok umat Islam mempertanyakan dan berniat ingin mengubah Pancasila, kiai-kiai NU sejak 1984 menyatakan organisasinya berasaskan Pancasila. Mereka berpendirian seperti itu karena Islam dan Pancasila tidak bertentangan dan tidak perlu dipertentangkan.

Pada Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama di Pondok Pesantren Al-Azhar Citangkolo, Kota Banjar, 27 Februari hingga 1 Maret, panitia memampang petuah-petuah ulama terkait Pancasila, NU, kemanusiaan, dan lain sebagainya.

Beberapa petuah ulama yang terkait Pancasila di antaranya adalah KH As’ad Syamsul Arifin. Ia mengatakan:

Pancasila sebagai dasar dan falsafah negara Indonesia, harus ditaati, harus diamalkan, harus tetap dipertahankan, dan harus dijaga kelestariannya.

Sekarang saya sudah mengerti apa itu Pancasila. Sekarang bila ada orang Indonesia, bila orang Islam, orang NU, yang anti-Pancasila, itu berarti anti padaku. (KH Bisyri Sansoeri)

Pancasila dan Islam adalah hal yang dapat sejalan, saling menunjang. Keduanya tidak bertentangan dan jangan dipertentangkan.” (KH Ahmad Shiddiq).

Petuah-petuah tersebut juga ada yang menyangkut kemanusiaan, misalnya dari seorang habib yang merupakan Mustasyar PBNU:

“Jika sulit mencari alasan untuk menghormati pemeluk agama lain, alasan bahwa dia adalah “manusia” ciptaan Allah SWT saja sudah cukup. (Habib Muhammad Luthfi bin Yahya)

“Islam Nusantara bukan agama baru, tetapi Islam yang tumbuh di Nusantara. Islam Nusantara ya Islam Aswaja an-nahdliyah.” (KH M’aruf Amin)

“Satu saja yang saya pesankan untuk kalian santri-santri NU. Satu saja. Jangan sampai melupakan guru-gurumu. Caranya, yang penting caranya, doakan mereka. Terutama doa supaya para guru kita mendapatkan husnul khatimah.” KH Sahal Mahfudh.

“Tugas kita bukanlah untuk berhasil. Tugas kita adalah untuk selalu berikhtiar untuk mencoba.” KH Abdullah Faqih.

“Jangan takut tidak makan kalau berjuang mengurus NU. Yakinlah, Kalau sampai tidak makan, tegur aku jika aku masih hidup. Tapi jika aku sudah mati, tagihlah ke batu nisanku. (KH Ridwan Abdullah)

“Para ulama benar-benar mencurahkan kemampuan dan wibawanya demi kelangsungan hidup jamiyah dan kejayaan NU. (KH Ali Maksum).

Tentu ada petuah Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari: “Siapa yang mengurus NU, saya anggap santriku, siapa yang menjadi santriku saya doakan khusnul khotimah beserta keluarganya”.

Sumber : ( NU Online )

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *