Para Pendiri NU Kota Tasikmalaya

Pendiri NU Kota Tasikmalaya menurut informasi yang paling banyak tersebar ialah Kiai Haji Fadil Cikotok Parigi yang lahir di Cirebon. Sedangkan terdapat versi lain mengenai Pendiri NU Pertama Kali di Tasikmalaya, yakni digagas oleh Kiai Haji Fadil dan Kiai Haji Oenoeng Qolyubi yang merupakan ulama Desa Madewangi, Kec. Tamansari, Tasikmalaya. Awal Kiai Haji Oenoeng Qolyubi berjumpa Kiai Haji Fadil ketika hidup bersama di Mekkah, dan oleh Alloh ta’ala.. Mereka dipertemukan di Tasikmalaya yang kemudian menggagas untuk pendirian Nahdlatul Ulama (N.U) Cabang Tasikmalaya.

Versi pertama yang mengatakan bahwa Nahdlatul Ulama Cabang Tasikmalaya didirikan hanya oleh Kiai Haji Fadil saja, tercatat didalam penelitian yang disusun oleh Kiai Haji A. E. Bunyamin dalam “Awal Berdirinya NU di Tasikmalaya” (STAINU Tasikmalaya 2014), selain itu juga terdapat dalam penelitian Maman Abdul Malik Sya’roni didalam “Idhar Ulama Birokrat di Tasikmalaya” (IAIN Sunan Kalijaga 1993).

Sedangkan didalam catatan yang ditulis pada 27 November 1955 oleh Kiai Haji Ahmad Thobibudin (putra dari Kiai Haji Oenoeng Qolyubi) terdapat pernyataan dari H. Zainal Abidin (Seorang anggota DPR asal Garut) bahwa yang mendirikan Nahdlatul Ulama Cabang Tasikmalaya ialah Kiai Haji Fadil dan Kiai Haji Oenoeng Qolyubi pada tahun 1926.

Mengenai Pendiri NU Pertama Kali di Tasikmalaya ini memang menarik untuk dibahas. Namun, dikarnakan terbatasnya sumber literatur mengenai awal mula pendirian N.U di Tasikmalaya, hal ini masih menjadi kesamaran dan belum juga tandas untuk dibahas. Selain itu, mengenai tahun berdirinya N.U di Tasikmalaya pun masih debatable. Penelitian yang telah dilaksanakan oleh Kiai Haji A. E. Bunyamin dan Amin Mudzakir menyebutkan bahwa N.U Cabang Tasikmalaya berdiri pada tahun 1928, namun ada pula yang menyebutkan, N.U di Tasikmalaya berdiri pada tahun 1926, namun hal ini bukanlah sesuatu yang asas.

Mulai Mengenalkan Jam’iyyah Nahdlatul Ulama ke Berbagai Kiai di Tasikmalaya

Seperti yang tercatat dalam “Riwayat Ngadegna N.U Cabang Tasikmalaya” yang ditulis dalam bahasa Sunda oleh oleh Kiai Haji Ahmad Thobibudin pada tahun 1955 menceritakan, Kiai Haji Oenoeng dan Kiai Haji Fadil menemui berbagai Kiai Haji di SIngaparna dan beberapa area yang bertetangga dekat dengan Kota dan Kabupaten Tasikmalaya saat ini.

Adanya interupsi penjajah Belanda membuat jumlah keanggotaan jam’iyyah Nahdlatul Ulama Tasikmalaya menjadi pasang surut, hal tersebut berimbas juga ke semua wilayah Tasikmalaya, tak terkecuali Kampung Madewangi, yakni tempat tinggal Kiai Haji Oenoeng Qolyubi.

Perlu pembaca fahami, ternyata N.U cabang Tasikmalaya sendiri pernah di pegang oleh Sutisna Senjaya (guru HIS Pasundan) yang kemudian menjadi penggagas dan penggerak majalah al-Mawaidz pada tahun 1933. Selain pernah dipegang oleh Sutisna Senjaya, jam’iyyah N.U cabang Tasikmalaya juga pernah dipegang oleh R. Ahmad Dasuki, dan juga R. Ajat Sudrajat.

Konsolidasi Bersama Kiai Haji Ilyas Ruhiyat Cipasung

Selepas Sutisna Senjaya masuk kedalam tubuh jam’iyyah Nahdlatul Ulama, konsolidasi dilaksanakan ke Singaparna untuk menemui Kiai Haji Ilyas Ruhiyat Cipasung, yang mana beliau kemudian menjadi pelaksana harian Ro’is Aam PBNU Pusat atas keputusan MUNAS PBNU di Lampung tahun 1992 untuk menggantikan Kiai Haji Ahmad Siddiq. Lalu Kiai Haji Fadil dan Oenoeng ke Mangunreja untuk menemui Kiai Haji Aon, dan ke Cicarulang serta Cilenga untuk berdiskusi dan berdialog dengan Kiai Haji Dahlan Cicarulang dan Kiai Haji Sobandi Cilenga. Pada awalnya, Kiai Haji Sobandi Cilenga enggan untuk bergabung kedalam jam’iyyah Nahdlatul Ulama, namun melihat adanya nama besar Kiai Haji Ilyas Ruhiyat Cipasung, beliau pun memutuskan untuk berjuang bersama kedalam jam’iyyatul islamiyyah terbesar di Indonesia.

Sedangkan hasil dialog dan diskusi yang dilaksanakan oleh Kiai Haji Fadil dan Kiai Haji Oenoeng dengan para Kiai di wilayah Cibereum berhasil meyakinkan Kiai Haji Zabidi Nagarakasih dan Kiai Haji Masduki Awipari untuk bergabung dan berjuang bersama, dan pada akhirnya.. Satu per satu para Ajeungan atau Kiai dengan senang hati ikut masuk kedalam organisasi islam terbesar di Indonesia, Nahdlatul Ulama.

Siapakah Pemimpin N.U Cabang Tasikmalaya Pertama Kali?

Setelah jam’iyyah N.U Cabang Tasikmalaya kokoh fondasi keorganisasian nya, pemilihan ketua NU terlaksana di rumah Kiai Haji Dimyati Nagarawangi, maka dipilihlah Raden Ahmad Dasuki sebagai Ketua dan Tanfidziyah (pelaksana harian), sedangkan untuk Syuriah didapuk oleh Kiai Haji Fadil.

Pesan Kiai Haji Aon Mangunreja Kepada Santrinya Sebelum Bergabung dengan N.U

“Barudak, kaula tos kadongkapan Kangjeng Dalem ti Tasik. Saur anjeunna kiwari aya dua kumpulan anyar. Anu hiji ti kulon (AII atau Al-Ittihadijatoel Islamijah atau sekarang dikenal P.U.I), nu hiji deui ti wetan nyaeta N.O atau Nahdlatoel Oelama. Kula moal nitah moal nyarek. Tapi asana nu bakal lana mah nu ti wetan. Kieu we pamanggih kula mah mun rek asup kadinya baca ‘Robbi adkhilni mudkhola sidqin wa akhrijni mukhroja sidqin waj’al lii minladunka sulthoona nashiiro’. Baca tilu balik bari ramo leungeun katuhu dempet ku kelek kenca. Mun hate loyog, pek asup kadinya, mun heunteu loyog nya ulah,”

Artinya:

“Para santri, Kiai sudah kedatangan tamu dari ‘Kangjeng dalem’ dari Tasikmalaya. Kata beliau, sekarang ada dua perkumpulan Islam yang baru. Yang satu dari Barat (AII atau al-Ittihadijatoel Islamijah atau sekarang Persatuan Umat Islam atau P.U.I), dan yang satu lagi dari Timur yaitu N.O atau Nahdlatoel Oelama. Kiai tidak akan menyuruh atau melarang kalian. Namun, sepertinya Kiai merasakan bahwa yang akan berkembang pesat adalah yang dari Timur (N.U). Begini saja nasihat Kiai, apabila hendak bergabung ke Nahdlatoel Oelama, silahkan baca dulu ‘Robbi ad khilni mudkhola sidqin wa akhrijni mukhroja sidqin waj’al lii miladunka sulthoona nashiiro’. Bacalah do’a tersebut tiga kali sambil masukan jari tangan kanan kedalam ketiak kiri mu. Kalau hati mu sreg/pas, silahkan masuk, kalau tidak ya jangan.”

artikel ini telah tayang di nu.or.id

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *