PW Fatayat NU Jawa Barat Gelar Webinar Bersertifikat

NU Tasik Online, Bandung – Komisi Informasi (KI) Jabar bekerjasama dengan PW Fatayat NU Jawa Barat dan Universitas Islam Nusantara Bandung menggelar Webinar Bersertifikat dengan tema ‘Ketika Perempuan Merebut Informasi’ di Bandung pada Sabtu (16/5/2020).

Diskusi virtual yang berlangsung mulai pukul 13.00-15.00 WIB ini diikuti oleh 200-an orang peserta dari berbagai kalangan yang mayoritas adalah perempuan muda dari Fatayat NU se-Jabar yang tersebar di 27 Kota/Kabupaten di Jawa Barat.

Webinar yang dipandu langsung oleh Hirni Kifa Hazefa S.Pd., M.Ikom., CEC selaku Ketua Fatayat NU Jabar ini menghadirkan tiga narasumber yakni KH Hasan Nuri Hidayatullah, Ketua PW NU Jabar, Prof Dr H Engkus Kuswarno selaku Rektor UNINUS Bandung dan Dr Anne Friday Safaria, Komisioner KI Jabar.

Ketua KI Jabar Ijang Faisal mengatakan pada sambutannya bahwa hak atas informasi menjadi sangat penting karena itu merupakan upaya penjaminan atas hak warga negara dalam mengakses informasi publik.

“Keberadaan Komisi Informasi Publik yang di bentuk berdasarkan UU KIP menjadi sangat penting terutama dalam upaya penjaminan atas hak warga negara dalam mengakses infomasi publik. Komisi Informasi tidak hanya dapat memawadahi komplain dan keluh kesah warga, tetapi juga dapat memberikan kepastian hukum atas status informasi, baik informasi terbuka maupun informasi tertutup,” tutur Ijang Faisal.

Gus Hasan selaku pemateri pertama memaparkan materi tentang keterbukaan informasi menurut ajaran Islam.

“Eksistensi perempuan dalam Islam sangat dimuliakan. Mulia tidaknya sebuah bangsa bergantung dari peran yang dimainkan perempuan terutama kepiawaiannya dalam mengelola sebuah informasi,” papar Gus Hasan.

Sementara itu, Tema Perempuan dan Keterbukaan Informasi Publik saat Pandemi Covid 19 diutarakan Rektor Uninus selaku pemateri kedua.

“Wabah Pandemi telah menyebabkan terjadinya banjir informasi bahkan terjadi omisi, distorsi bahkan eufemisme informasi” tutur Engkus Kuswarno.

Dalam konteks komunikasi, tranparency terhadap informasi juga indepedency terhadap ketahanan hidup yang dimiliki perempuan dinilai lebih tinggi daripada laki-laki.

Perempuan pada umumnya tidak bisa menahan informasi bahkan cenderung menyampaikan kembali suatu informasi kepada orang lain.

“Walhasil, dibutuhkan sikap yang cerdas saat menerima juga mengelola sebuah informasi,” tandasnya.

Sedangkan, Anne Friday Safaria sebagai pembicara ketiga mengupas tema tentang pentingnya perempuan mengetahui informasi publik.

“Tidak semua jenis informasi yang tampil di media massa merupakan informasi publik” tegas Anne.

Informasi publik merupakan informasi yang dikuasai badan publik terutama yang berkaitan dengan penyelenggaraan negara. Perempuan disinyalir lebih well informed daripada laki-laki.

Seorang perempuan membutuhkan informasi publik untuk kesejahteraan dirinya dan keluarganya.

“Perempuan diharapkan memberikan kontribusi yang berarti bagi lahirnya suatu kebijakan publik. Dalam hal ini perempuan menjadi garda terdepan dalam mengelola dan menggunakan informasi,” pungkasnya. (Sisca)

Sumber: Metrojabar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *